Jumat, 31 Mei 2019

Kader Air Kencing


Saat merekrut anggota baru dalam komunitasnya, sang ketua, Riadi, menginginkan adanya anggota yang nantinya juga akan menjadi pengurus komunitas yang sudah dibentuknya selama beberapa tahun ini. Anggota yang akan dipilihnya haruslah yang jujur dan berprinsip karena komunitas ini adalah komunitas yang harus dilandasi oleh rasa kejujuran. Menerima banyak sumbangan dari donatur dan memberikannya kepada yang membutuhkan haruslah jujur. Maka dari itu Riyadi perlu menyeleksi para anggotanya dan memilih siapa saja yang sekiranya memenuhi kualifikasi untuk direkrut.

Para pelamar yang ingin masuk di komunitas itu ada lima belas orang. Mereka sudah menunggu Riyadi untuk menyeleksi satu per satu dengan proses wawancara terlebih dahulu. Lima belas orang itu berasal dari daerah yang berbeda-beda. Mereka semua saling tidak mengenal satu sama lain karena mereka mengetahui komunitas ini melalui sebuah jejaring sosial media. Sambil menunggu Riyadi yang menyiapkan tempat dan daftar wawancara, kelima belas orang itu saling berkenalan dan saling bertanya apa motivasi mereka untuk mengikuti komunitas ini. Alasannya terbanyak memang karena komunitas yang dipimpin Riyadi ini sudah bergerak cukup lama dan dikenal oleh masyarakat luas.

Sudah hampir setengah jam para anggota menunggu dan akhirnya mereka dipanggil. Mereka mengira jika mereka akan dipanggil satu per satu, namun ternyata mereka diminta untuk masuk ke ruangan bersama-sama. Rasa gerogi yang muncul sedari tadi tiba-tiba menghilang karena ternyata wawancara tidak dilaksanakan sendiri-sendiri melainkan bersama-sama di ruangan Riyadi.Para calon anggota itu diminta untuk mengenalkan dirinya masing-masing. Setalah itu tidak ada perkataan apa-apa lagi yang Riyadi bicarakan. Ia meminta teman satu komunitasnya untuk mengambilkan beberapa gelas yang sudah diisi air berwarna cokelat seperti teh. Baunya sangat tidak sedap, seperti bau air kencing. Para calon anggota itu heran dan menolehkan kepalanya satu sama lain.

Mereka bingung apa yang harus dilakukan. Akankah mereka diminta untuk meminumnya?Riyadi masuk lagi ke dalam ruangan dan melihat semua calon anggotanya kebingungan. Riyadi meminta mereka semua untuk mengambil gelas masing-masing dan mencium baunya. “Jika kalian benar-benar berniat untuk bergabung dengan komunitas kami, silahkan minum air yang ada di gelas itu sampai habis” seperti itulah perintah Riyadi kepada mereka. Banyak dari mereka yang tidak kuat dengan baunya namun tetap bersikukuh untuk meminumnya.

Empat belas anggota pun seketika memuntahkan air yang sudah diminumnya. Mereka berlarian ke kamar mandi, kecuali satu orang calon anggota bernama Slamet.Ia sama sekali tidak menyentuh gelas dan meminum airnya. Kemudian Riyadi bertanya kepadanya dengan garang, “Kenapa kamu tidak meminumnya? kamu tidak ingin menjadi anggota komunitas kami?”, Slamet pun menjawab dengan tegas, “Walaupun saya ingin bergabung dengan komunitas ini, tapi jika perlakuan anda yang memberi kami minuman yang tidak layak seperti ini, lebih baik saya memilih untuk tidak dipilih.

Bukan saya mengundurkan diri, namun saya sadar ini tidak baik”Riyadi tertawa terbahak-bahak. Semua calon anggota saling memandang satu sama lain. “Kalian, kecuali Slamet, silahkan pergi meninggalkan tempat ini. Tempat ini hanya untuk orang yang jujur seperti Slamet. Ia tidak munafik dan apa adanya. Silahkan...silahkan semuanya bubar” dengan wajahnya yang kesal, semua calon anggota yang tidak terpilih akhirnya pergi meninggalkan tempat itu dan Slamet, ia diminta Riyadi untuk mempersiapkan dirinya yang akan dikenalkan dengan anggota anggota yang sudah lama. Slamet pun sangat bersyukur dan bahagia karena sekarang dirinya benar-benar bisa menjadi bagian dari komunitas itu dan dipercaya oleh Riyadi menjadi orang yang jujur dan apa adanya.

Karena Balas Budi


Aku duduk seorang diri di roof top kantor. Aku merasakan angin yang berhembus kencang. Aku memandangi sebuah pemandangan di bawah gedung banyak sekali mobil-mobil berlalu lalang, rumah-rumah, dan gedung-gedung lain yang juga menjulang tinggi berdekatan denganku. Aku tak sadar sudah berdiam lama di tempat ini, orang yang aku minta untuk datang juga tak kunjung kelihatan batang hidungnya. Angin yang kencang makin membuat tubuhku menggigil. Aku ambil telfon genggamku dan beranjak kembali ke dalam kantor.

Aku melihat pintu lift terbuka dan ternyata ia memenuhi permintaanku. Dia berjalan ke arahku, tapi aku merasa sudah lelah dan malas untuk bertemu. Aku bilang padanya badanku sudah menggigil karena angin yang cukup kencang dan dia mengerti. Kami sama-sama turun ke lantai dimana ada cafe. Mungkin lebih baik jika kami mengobrol di cafe saja. Setibanya di cafe, aku dan riko kekasihku, memesan minuman dan makanan. Kami sepakat untuk menghabiskan makan terlebih dahulu dan baru berbicara. Sebenarnya sudah lama sekali aku ingin membicarakan masalah ini dengan dia. Tapi, karena aku sibuk dengan pekerjaanku dan begitu pun juga dengan dia, maka pertemuan ini jadi sering terlupakan.

Aku dan Riko bekerja pada perusahaan yang sama. Bedanya, aku bekerja sebagai staff di kantor dan Riko bekerja pada bagian lapangan. Sulit bagi kami untuk bertemu dan sekedar untuk jalan berdua. Selesai makan, Riko bertanya apa yang sebenarnya ingin aku sampaikan. Dengan rasa takut, aku enggan untuk menjawab karena otakku juga masih menimbang-nimbang apakah ini baik untuk dibicarakan atau tidak. Dengan tekad yang bulat, akhirnya aku berani mengutarakannya, “Kita ngga jadi nikah aja ya?”Riko yang sambil menghabiskan minumannya tersedak dan kaget. Ia terbatuk hingga wajahnya memerah, “Kenapa kamu ngomongnya gini? memangnya kenapa?”, “Ngga papa, nikahnya ngga jadi aja ya?” aku mengulangi sekali lagi.

Wajah Riko semakin bingung dan menatapku dengan tajam, “Karena apa? ada orang lain di hati kamu?” ia mencoba memastikan, “Hmm, aku nggak jadi pengin nikah aja” jawabku dengan santai, “Kamu nggak kasian sama ayah dan ibu dan keluarga yang lain? mereka udah seneng lho melihat kita sebentar lagi menikah”, “Ngga papa, nanti aku yang bilang aja sama keluargaku. Aku juga akan meminta maaf sama keluargamu” sahutku sambil menunduk, “Coba lihat mataku, kamu ngomong sekali lagi sambil lihat mataku” jawabnya dengan gelisah. Aku pun mengulangi bicara sambil menatap wajahnya dan semuanya biasa saja.

Benar ya, kamu memang udah ngga ada rasa lagi sama aku. Mata kamu tidak berbohong, sekarang terserah kamu mau bagaimana, aku nggak ikut-ikut, terserah semua urusanmu” dan Riko pun pergi dengan rasa kecewanya. Aku sendiri sudah lega, aku sudah mengutarakan semuanya pada dia. Sesungguhnya pertama kali aku menerima cintanya hanya karena aku hendak berbalas budi karena keluarganya sudah pernah menampungku selama aku melakukan penelitian di desanya. Aku tidak mencintai Riko selayaknya aku mencintai seseorang yang benar-benar aku cintai. Aku menganggapnya hanya sebagai seorang sahabat. Tapi aku selalu mencoba meyakinkan diriku jika suatu saat aku akan bisa mencintainya, namun hingga saat ini aku memang tidak bisa mencintainya. Aku lebih baik berkata jujur saat ini, ketimbang nanti ketika keadaan sudah berlarut-larut.

Kisah lucuku Keloloden


Pagi-pagi sekali bu Iroh sudah bangun di kala suara takbir berkumandang. Ia menyiapkan pakaian dan mukena untuk ikut menunaikan shalat idul adha di masjid. Ia mandi ketika langit belum terkena sinar matahari dan membangunkan anak dan suami setelah siap semuanya. Mereka lekas mandi, berdandan, dan jalan menuju masjid bersama-sama. Orang-orang juga sama berbondong-bondong pergi ke masjid bersama dengan keluarganya. Mereka semua saling bertemu di pertigaan atau perempatan gang. Semua orang terlihat bahagia menyambut datangnya hari suci ini.

Dari kejauhan bu Iroh dan keluarganya melihat beberapa sapi dan kambing yang sengaja diikat di bawah pohon samping masjid. Kambing dan sapi itu akan disembelih dan dijadikan kurban. Salah satu dari sapi yang berada di sana adalah sapi milik bu Iroh dan keluarga. Berulang kali ia mencoba menegaskan sapi yang besar berwarna kecokelatan itu adalah sapi miliknya yang dikurbankan. Tangannya tak henti menunjuk-nunjuk sapi yang paling besar di antara sapi-sapi yang lain. Seketika orang-orang di dekatnya memuji sapi milik bu Iroh yang besar itu.

Setelah shalat idul adha selesai, para pemuda desa mulai menyalakan petasan tanda berakhirnya shalat dan untuk meramaikan bubarnya orang-orang dari dalam masjid. Banyak pasang mata memandang binatang yang diikat di bawah pohon itu. Banyak anak kecil yang merengek-rengkek kepada ibunya untuk melihat sapi itu dengan dekat. Di antara mereka ada yang sengaja ingin menonton disembelihnya sapi sampai tidak pulang ke rumah terlebih dahulu, namun ada juga yang tanpa melihat kanan kiri langsung saja pulang ke rumah masing-masing.

Bu Iroh dengan gesit mengambil sandalnya dan berlari ke rumah untuk meletakkan mukenanya. Ia kembali ke masjid sembari membawa banyak pak plastik dan pisau-pisau yang pasti akan dibutuhkan oleh orang-orang yang hendak membantu penyembelihan kambing dan sapi itu. Sesampainya disana, bu Iroh tampak bahagia dengan sapinya yang dikurbankan. Ia meminta agar sapinya disembelih paling akhir karena katanya tidak tega melihatnya dengan nadanya yang memelas dan terus mengusap-usap kepala sapi tersebut.

Ketika semua sapi telah tersembelih, bu Iroh sangat menjaga-jaga daging yang sudah dirajanginya. Ia tidak mau jika ada seseorang yang licik mengambil daging dengan seenaknya sendiri. Sementara bagian dari sapi milik bu Iroh yang diberikan sebagian kepada bu Iroh oleh panitia, tidak boleh disentuh oleh siapapun. Dengan cepat ia pulang ke rumah dan menyimpan sebagian daging dari sapi yang dikurbankannya. Ia segera kembali lagi ke pelataran masjid untuk ikut mengurusi daging-daging yang masih belum ditimbang itu.

Bu Irong senang sekali karena mendapatkan banyak bagian juga dari hasilnya membantu panitia. Dengan semangat ia memberi kabar kepada saudara-saudaranya agar berkunjung dan menyantap masakan daging yang banyak yang diperolehnya dari masjid tadi. Ia sudah menyiapkan macam-macam bumbu yang diperlukan. Ia sudah menyiapkannya dari kemarin dan disimpanya dalam lemari es, sehingga dengan cepat daging-daging itu dimasaknya dan matang sebelum saudara-saudaranya datang.

Karena takut kehabisan daging yang sudah dimasaknya, ia cepat-cepat menyantap daging hasil masakannya sendiri dalam jumlah yang banyak dan kenyang. Ia menyantap daging tanpa nasi. Ia pun menyisakan beberapa piring daging dan disimpannya baik-baik di dalam almari. Tiba-tiba ketika sedang lahap-lahapnya menyantap masakan dagingnya, ia tersedak. Daging yang sedang disantapnya terhenti di tenggorokannya. Daging itu sulit ditelan dan sulit juga dikeluarkan. Tiba-tiba juga mulutnya yang sedang membuka tidak bisa dikembalikan lagi. Mulutnya terus membuka, pernafasan di tenggorokan pun terhalang. Ia berlari mencari suaminya yang sedang lelah dan tertidur di depan televisi.

Sang suami kaget dan mencoba menolongnya, namun mulut sang istri tetap tidak bisa dikembalikan ke asalnya dan rahangnya tidak bisa dipaksa untuk menutup. Sang suami lekas mencari bantuan untuk membawa istrinya ke rumah sakit, namun sebelum sampai sang istri sudah tidak kuat dan meninggal karena saluran nafasnya yang tidak berfungsi lagi. Sang suami masih penasaran apa penyebabnya yang mengakibatkan sang istri menjadi seperti itu. Setelah dibawa ke rumah sakit, dokter baru menemukan penyebabnya yang adalah tenggorokan Bu Iroh tersumpal dua potongan daging yang belum selesai terkunyah namun kepaksa masuk ke dalam tenggorokannya. Hari itu menjadi hari yang menyedihkan untuk keluarga dan saudara-saudara yang tadinya hanya berniat menyantap daging namun malah merawat jenazah bu Iroh.

Keberuntungan Job Seeker


Dua pemuda itu kembali menapaki trotoar di sepanjang jalan yang dekat dengan daerah perkantoran. Arik dan Memet memang sedang sibuk mencari pekerjaan. Sambil berjalan dan menenteng ampelop cokelat itu, merek saling mengobrol,“Bingung sekali aku ini Rik, sudah lulus kuliah namub belum mendapatkan pekerjaan juga”“Sabar lah Met, kalau kita terus berusaha, pasti nanti akan ada jalan. Berusaha terus dulu lah Met, nanti selebihnya kita berdoa dan pasrahkan saja semuanya kepada Tuhan”“Baik lah Rik, eh ngomong-ngomong kamu bijaksana sekali, temben...”“Memang seperti inilah aku Met, hahaha.

Sambil tertawa terbahak-bahak, Arik merasa dirinya menginjak sesuatu. Ia pun langsung melihat ke bawah dan ia mendapati dirinya menginjak sesuatu berbentuk hitam dan kotak. Benda itu masih diinjaknya. Memet yang tidak sadar temannya berhenti terus saja melanjutkan langkahnya. Tidak lama kemudian Memet tersadar ia hanya tertawa sendiri, sementara Arik sudah tidak ada di sampingnya. Memet segera menengok ke belakang, ia mendapati Arik sedang membuka dompet. Berulang kali ia memanggil Arik, namun Arik tidak mendengarkan dan terus fokus kepada dompet itu.

Memet yang tak sabar pun meledeknya, “Ya ampun jangan lama-lama liah dompetnya, paling juga tidak ada isinya, orang kita aja masih pengangguran hahaha ayok cepat.” Arik tetap tak peduli dengan suara Memet, ia malaj menyuruh Memet mendekat. Karena penasaran dengan raut wajah Arik, Memet pun mendekat. “Eh lihat ini ada dompet jatuh”“Hah? dimana” Memet terkejut setelah mendengar,“Nih barusan disini, nih ada KTP nya nih”“Widiiih uangnya banyak juga tuh bro” Kata Memet lagi ketika melihat uang di dalamnya,“Hust, ini bukan uang kita. Kita harus kembalikan kepada yang punya, yuk ah pesan ojek online, kita harus ke alamat ini nih.

Huft, baik sekali kamu Rik, semoga kamu cept mendapat pekerjaan ya”“Iya Met, kita met, bukan aku saja”Mereka sampai di alamat yang ada di KTP tersebut. Arik dan Memet berjalan pelan dan mengetuk pintu rumah itu. Ada seorang wanita berjalan menuju pintu yang berkaca itu dan membukakannya. “Permisi bu, apa benar ini Rumah pak Edi?” tanya Arik dengan malu-malu,“Oh ya benar dik, ada perlu dengan pak Edi?”“Iya bu, ini barusan di jalan sebelah sana saya dan teman saya menemukan dompet milik pak Edi”“Owalah, tadi memang suami saya menelfon saya untuk mengecek dompetnya tertinggal tidak di rumah, namun setelah dicari-cari dompetnya tidak ada.

Beruntung sekali adik-adik ini yang menemukannya dan berbaik hati mengembalikannya kesini”“Tidak apa bu, sudah seharusnya seperti itu” Memet dengan nadanya yang khas menjawabnya.“Adik berdua ini mau kemana? kok rapih sekali?” tanya istri pak Edi yang juga sembari memperhatikan mereka berdua,“Ini bu, kami sedang mencari pekerjaan, kebetulan baru satu minggu kemarin kami lulus kuliah dan sekarang mau bekerja bu” jawab Arik dengan halus,“Oh, bisa saya minta nomor adik? agar nanti saya kabari. Kebetulan suami saya sedang membutuhkan karyawan untuk bagian staff administrasi. Nanti kalau masih ada, saya kabari adik ya?”“Oh iya bu, ini nomor telfon kami, terimakasih banyak ya bu.

Iya, malah justru saya yang harusnya berterimakasih kepada adik berdua karena sudah baik mengantarkan dompet suami saya”“Yasudah bu, kalau begitu kami pamit dulu ya”“Oh iya, ini sekalian untuk ongkos pulang” wanita itu menyodorkan dua lembar uang raturan ribu.“Maaf bu, tidak usah, kami dekat kok bu, cuma di seberang situ”“Oh yasudah, sekali lagi terimakasih ya dik untuk kebaikan hati adik berdua”“Sama-sama bu, mari bu kami duluan”“Iya hati-hati ya”Malam hari ketika sedang menikmati mie goreng dan mie rebus, Arik dan Memet mendapatkan telfon dari pak Edi. Ia meminta merka untuk datang ke kantornya dengan membawa surat lamaran pekerjaan. Dengan gembira keduanya seketika melakukan sujud syukur dan berpelukan. Akhirnya Tuhan memberikan jalan itu kepada mereka berdua.

Jawaban Sang Waktu


Usai bersalam-salaman dengan tetangga di hari raya ini, Mbok Surti dan keempat anaknya pergi mengunjungi makam sang suami. Ia, anak-anak, menantu, dan cucu-cucunya menaburkan bunga di atas kuburan dan berdoa dengan khidmat. Salah satu cucunya yang masih kecil merengek-rengek minta pulang dan yang sebagian berlarian kesana kemari mengumpulkan bunga kamboja yang jatuh dari dahannya. Satu dari keempat anaknya menangis, ia teringat akan mendiang ayahnya dan saudara yang lain hanya menenangkannya.

Hari semakin siang dan cuaca semakin panas. Mbok Surti meminta anak-anak dan menantunya untuk pulang terlebih dahulu karena kasihan dengan cucunya yang terus merengek-rengek.Kini, semuanya sudah pulang dan mbok Surti hanya tinggal seorang diri di pemakaman sang suami. Ia merapihkan bung-bunga yang tercecer oleh cucu-cucu dan menaburkannya kembali tepat di atas makam sang suami. Ia membuka botol dan menuangkan air pada makam terseebut. Ia mengusap-usap batu nisan itu dan sesekali menciuminya.Mbok Surti terdiam dan menangis. Ia rindu dengan suaminya.

Sudah dua puluh tahun lebih sang suami meninggal dunia, disaat anak-anaknya masih kecil dan perlu biyaya untuk sekolah. Mbok Surti yang hanya bekerja sebagai petani harus menitipkan tiga anaknya kepada saudara di luar kota.Anak pertamanya pergi ke kota J, anak keduanya di kota B, dan anak ketiga pergi ke kota Y. Anak terakhirnya tetap bersama dirinya dan menjaga mbok Surti hingga saat ini.Dalam hatinya mbok Surti berbicara banyak dengan almarhum suaminya. Ia bersyukur sekali akan keberhasilan anak-anaknya saat ini. Dahulu, selagi menjanda, ia seringkali dibuat bahan omongan oleh tetangganya.

Mereka semua beranggapan seorang janda dengan banyak anak akan mencari seorang ayah baru untuk anaknya, terutama untuk membantunya membiyayai kehidupan keluarga. Padahal, mbok Surti bukanlah wanita seperti yang para tetangga itu pikirkan. Sampai saat ini mbok Surti masih sama saja statusnya sebagai seorang janda.Mbok Surti menitipkan anak-anaknya bukan karena ia tidak ingin tanggung jawab. Ia ingin anak-anaknya belajar menjadi seseorang yang mandiri. Mereka semua tinggal bersama paman dan bibinya dan tumbuh menjadi orang yang pandai menghormati dan menghargai sesama. Mereka tahu caranya berlaku kepada orang lain dan mereka jadi belajar mengurus hidupnya masing-masing.

Mbok Surti juga bekerja dengan keras di desa dan mengirimkan sebagian penghasilannya untuk anak-ananknya. Saat ini, semua anaknya pulang ke kampung untuk merayakan hari raya bersama sang ibu. Mereka tidak melupakan Ibu dan kampung halamannya. Justru tetangganya yang lain anak-anaknya hanya berdiam di rumah, tidak bekerja dan tidak menjadi orang yang mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri.Lagi-lagi mbok Surti mencium nisan sang suami dan menangis lagi. Tangisnya adalah tangisan syukur dan bahagia. Walaupun seorang diri, namun ia mampu membesarkan dan mendidik anak-anaknya menjadi seorang yang baik dan berbakti kepada orang tua. Cucu-cucunya yang lucu semakin membuat kebahagiaannya semakin sempurna.

Mbok Surti menyudahi tangisnya dan mengusap air matanya. Ia bersiap-siap pulang ke rumah dan merayakan hari raya lagi dengan anak dan cucunya. Langkahnya tenang meninggalkan pemakaman dan hatinya bahagia hendak menemui cucu-cucunya di rumah.Sesampainya di rumah, anak dan menantunya sudah menyiapkan kejutan untuk mbok Surti. Hari itu adalah hati dimana Mbok Surti berulang tahun. Mereka merayakannya dengan memberinya roti ulang tahun dan kado umrah untuknya. Lagi-lagi mbok Surti bersujud syukur akan kebahagian yang Tuhan selalu berikan kepadanya dan berharap agar keluarganya selalu dikelilingi oleh kebaikan dan keberuntungan.

Isi Hati yang Tak Tersampaikan


Sedari tadi Kania hanya berdiam diri melentangkan badannya sambil memandangi langit-langit kamarnya. Pandangannya kosong. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Tanggannya kembali memegang figura yang juga tergeletak di sampingnya. Dipandanginya figura itu, diusapnya juga. Air mata Kania perlahan membasahi pelipis matanya dan didiamkannya saja hingga mengering. Tampaknya ia sedang merindu.Tatapannya kembali pada langit-langit kamar, namun banyangannya jauh dari itu. Ia membayangkan saat-saat yang telah lalu atau mungkin sudah tidak akan pernah terulang kembali. Kania hanya menyesali sesuatu. Sosok laki-laki yang ada diantara barisan teman-teman KKNnya diusapnya lagi dan lagi.

Agus, salah satu teman KKN yang sangat dekat dengannya akan pulang ke Bengkulu untuk menikahi kekasihnya. Kania cemburu karena dia sempat dekat dengan Agus. Dua bulan di tempat KKN bukanlah waktu yang sedikit. Dua bulan tinggal dalam satu atap yang sama pasti meninggalkan banyak kenangan. Terutama untuk Kania dan Agus yang memang selalu bersama, bahkan teman-teman menganggap mereka seperti pasangan hasil cinta lokasi.Setiap pagi, Agus selalu membangunkan Kania dan mengajaknya lari-lari mengelilingi sawah di desa tempat dimana mereka ditugaskan oleh kampus.

Agus dengan sifatnya yang penyayang, lembut, dan perhatian membuat Kania menjadi salah beranggap. Kania merasa Agus sangat memperhatikannya. Hanya Kania yang Agus cari setiap kali ia kesulitan. Hanya Kania yang selalu diajaknya berjalan-jalan.  Dan hanya Kania tempat Agus mencurahkan isi hatinya. Kania teringat ketika Agus usil mencubit hidungnya. Ia juga teringat ketika Agus mengusap-usap kepalanya dengan sayang. Semuanya menjadi sesuatu yang tak terlupakan oleh Kania. Meskipun ia tahu bahwa Agus telah memiliki kekasih. Tapi, Kania tetap percaya bahwa jodoh hanya ada di tanggan Tuhan dan rasa cinta itu akan tumbuh melalui kebersamaan yang kerap.
Usai KKN, Agus masih selalu menghubungi Kania.

Kania semakin menganggap bahwa Agus merindukan dirinya. Ia menganggap bahwa Agus tidak ingin kehilangan dirinya. Kania pun kerap menghubungi Agus. Namun pertemuan mereka sudah tidak sedekat di tempat KKN. Agus mulai sibuk lagi dengan usaha dan juga kekasihnya. Kesempatan bagi Kania untuk bertemu dengan Agus pun semakin berkurang, sama dengan perhatian Agus kepadanya.Suatu ketika, Kania ingin sekali mengungkapkan perasaanya. Ia mengajak Agus untuk bertemu, namun Agus menolak karena tidak bisa meninggalkan pekerjaannya. Agus meminta Kania untuk menemui temannya saja yang lain, bahkan meminta Kania untuk cepat-cepat mencari pasangan hidup agar tidak melulu kesepian.

Seketia Kania kaget. Dalam hatinya ia menggumam, “Berarti selama ini benar-benar tidak sungguh-sungguh? lalu apa?” Kania pun mulai biasa saja. Ia mencoba menjauh, namun malah semakin merindu.Belum juga sampai mengutarakan isi hatinya kepada Agus, Kania sudah merasa patah hati terlebih dahulu. Agus bercerita kala berada di bandara. Ia akan pulang ke Bengkulu untuk menikahi kekasihnya. Kania hanya diam saja, ia mendengar semua yang Agus ucapkan, “Aku pulang dulu ya, sebenarnya aku pengennya kamu aja duluan yang menikah, biar aku bisa liat kamu menikah, yah tapi kan kamu masih jomblo terus. Semoga kita bisa ketemu lagi di kemudia hari ya Kania.”

Kania hanya bisa menunduk saja. Air matanya menetes pada kedua pipinya. Agus terus memberikanya semangat. Agus menerangkan bahwa Kania adalah teman terbaik yang pernah Agus temui dan teman yang paling tidak membawa-bawa perasaannya. Agus pun pamit dan naik ke pesawat.Berminggu-minggu sudah Kania merasakan kegalauan dalam hatinya. Sampai saat ini pun, ia masih tidak ingin mengutarakan isi hatinya. Kania membiarkan perasaanya mati bersama seiringnya waktu. Hanya satu yang menjadi penyesalannya hingga saat ini, ia tidak berani mengutarakan isi hatinya hingga yang dicintainya menikah dengan yang lain. Kania pun hampir tidak percaya lagi dengan perlakuan-perlakuan manis seorang laki-laki. Ia mencoba untuk tidak menghubungi Agus. Ia menghapus kontak nomor Agus dan semua isi pesan masuk dari Agus. Kania mulai melupakannya.

Hasil yang Tertuai


Tenggelam dalam masa lalu yang telah hilang. Tersesat langkahku pada karang kepedihan yang membuatku tak bisa mencari jalan untuk mencapai permukaan bahagia. Sepi seperti tak ada satu pun nyawa yang tersisa dan membawaku kepada kebahagiaan di permukaan sana atau aku yang memang tak ingin terlepas dari belenggu ini. Bertahun-tahun aku merasa menyesal, aku tak bisa melepaskan rasa penyesalan yang terus mengejar-ngejar di dalam pikiranku. Hingga saat ini aku merasa tidak akan ada sesuatu yang membuatku bahagia karena kebahagiaan itu telah hanyut bersama keegoisanku sendiri.

Aku benar-benar menyesali apa yang telah aku pilih, namun apapun alasanku, ini tetap pilihanku dan aku harus menjalaninya hingga entah sampai kapan kakiku ini bisa terbebas dan menemukan kebahagian yang lain. Karena hanya kebahagian itu yang ada di dalam khayalanku.Dia yang aku kira akan lebih bisa mencintaiku dan membahagiakanku jauh lebih bisa menyakitiku. Sementara Dia yang aku anggap tidak akan pernah bisa membahagiakanku justru lebih bisa mencintai dan membahagiakan orang lain. Oleh suamiku sendiri, aku ditelantarkan setelah dia mendapatkan apa yang dimau, sementara orang yang aku tinggalkan sangat menjaga dan menyayangi pasangannya dengan setulus hati.

Suamiku yang aku kira kaya raya dan akan membuatku bahagia, ia tidak pernah menafkahiku barang sepeserpun. Sementara dia yang aku tinggalkan demi orang lain selalu memberikan seluruhnya apa yang ia miliki kepada yang dicintainya.Suatu waktu takdir mempertemukan aku dengannya yang kutinggalkan. Ia masih sama seperti dahulu, ia tak memiliki dendam apapun, dan senyumannya masih seikhlas dulu. Perilakunya masih sayang seperti dulu, tak tega melihat anakku yang meminta balon tapi tak kuturuti. Ia tak pernah tega melihatku yang kusam ini mengais sampah mencari botol plastik yang berceceran. Wajahnya yang juga membuat orang lain bahagia melihatnya mencoba menolong aku yang pernah menyakitinya. Dia membelikan aku dan anakku baju, tapi tak akan pernah akan memberikan hatinya lagi.

Seorang wanita yang selalu berada di sampingnya memandangku penuh iba. Ia memberikan berapa stel baju. Entah apa yang hati mereka katakan, aku hanya malu dan mencoba pergi ketika mereka datang. Di rumah aku selalu mengkhayalkan apabila saat itu aku menerima dia dengan tulus dan ikhlas. Pasti hidupku tidak akan seburuk ini. Aku menikah dengan seorang pemabuk yang berakting suci kala itu. Inginku berpisah saja, inginku bercerai saja, namun tidak ada yang bisa kubuat. Ia selalu mencariku dan menemukanku, sementara aku tak pernah memiliki banyak uang untuk mengadakan sidang perceraian. Itu lah sebabnya sampai hari ini aku masih berada disini.

Dengan lingkungan yang ada di sekelilingku, aku merasa tidak ada laki-laki yang bisa lebih membahagiakanku selain dia yang kutinggalkan dan kini bahagia dengan yang lebih tulus menerimanya. Jika memang perpisahan antara aku dengan suamiku terjadi, maka hanya dia yang kutinggalkan yang masih ingin kuharapkan. Kadang aku merasa telah menjadi gila dengan berharap dan berkhayal lebih, namun kenyataannya aku memang harus setia menjalani nasib yang diperuntukkan untukku. Aku sadar, dia tidak ditakdirkan denganku karena memang bukan dia tidak pantas denganku, namun karena aku tidak pantas hidup bersama dengan orang yang baik dan setulus dia. Aku merasa pantas jika harus menjalani kehidupan ini, karena yang aku tanamkan dahulu memang seharusnya berbuah seperti ini.