Jumat, 31 Mei 2019
Jawaban Sang Waktu
Usai bersalam-salaman dengan tetangga di hari raya ini, Mbok Surti dan keempat anaknya pergi mengunjungi makam sang suami. Ia, anak-anak, menantu, dan cucu-cucunya menaburkan bunga di atas kuburan dan berdoa dengan khidmat. Salah satu cucunya yang masih kecil merengek-rengek minta pulang dan yang sebagian berlarian kesana kemari mengumpulkan bunga kamboja yang jatuh dari dahannya. Satu dari keempat anaknya menangis, ia teringat akan mendiang ayahnya dan saudara yang lain hanya menenangkannya.
Hari semakin siang dan cuaca semakin panas. Mbok Surti meminta anak-anak dan menantunya untuk pulang terlebih dahulu karena kasihan dengan cucunya yang terus merengek-rengek.Kini, semuanya sudah pulang dan mbok Surti hanya tinggal seorang diri di pemakaman sang suami. Ia merapihkan bung-bunga yang tercecer oleh cucu-cucu dan menaburkannya kembali tepat di atas makam sang suami. Ia membuka botol dan menuangkan air pada makam terseebut. Ia mengusap-usap batu nisan itu dan sesekali menciuminya.Mbok Surti terdiam dan menangis. Ia rindu dengan suaminya.
Sudah dua puluh tahun lebih sang suami meninggal dunia, disaat anak-anaknya masih kecil dan perlu biyaya untuk sekolah. Mbok Surti yang hanya bekerja sebagai petani harus menitipkan tiga anaknya kepada saudara di luar kota.Anak pertamanya pergi ke kota J, anak keduanya di kota B, dan anak ketiga pergi ke kota Y. Anak terakhirnya tetap bersama dirinya dan menjaga mbok Surti hingga saat ini.Dalam hatinya mbok Surti berbicara banyak dengan almarhum suaminya. Ia bersyukur sekali akan keberhasilan anak-anaknya saat ini. Dahulu, selagi menjanda, ia seringkali dibuat bahan omongan oleh tetangganya.
Mereka semua beranggapan seorang janda dengan banyak anak akan mencari seorang ayah baru untuk anaknya, terutama untuk membantunya membiyayai kehidupan keluarga. Padahal, mbok Surti bukanlah wanita seperti yang para tetangga itu pikirkan. Sampai saat ini mbok Surti masih sama saja statusnya sebagai seorang janda.Mbok Surti menitipkan anak-anaknya bukan karena ia tidak ingin tanggung jawab. Ia ingin anak-anaknya belajar menjadi seseorang yang mandiri. Mereka semua tinggal bersama paman dan bibinya dan tumbuh menjadi orang yang pandai menghormati dan menghargai sesama. Mereka tahu caranya berlaku kepada orang lain dan mereka jadi belajar mengurus hidupnya masing-masing.
Mbok Surti juga bekerja dengan keras di desa dan mengirimkan sebagian penghasilannya untuk anak-ananknya. Saat ini, semua anaknya pulang ke kampung untuk merayakan hari raya bersama sang ibu. Mereka tidak melupakan Ibu dan kampung halamannya. Justru tetangganya yang lain anak-anaknya hanya berdiam di rumah, tidak bekerja dan tidak menjadi orang yang mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri.Lagi-lagi mbok Surti mencium nisan sang suami dan menangis lagi. Tangisnya adalah tangisan syukur dan bahagia. Walaupun seorang diri, namun ia mampu membesarkan dan mendidik anak-anaknya menjadi seorang yang baik dan berbakti kepada orang tua. Cucu-cucunya yang lucu semakin membuat kebahagiaannya semakin sempurna.
Mbok Surti menyudahi tangisnya dan mengusap air matanya. Ia bersiap-siap pulang ke rumah dan merayakan hari raya lagi dengan anak dan cucunya. Langkahnya tenang meninggalkan pemakaman dan hatinya bahagia hendak menemui cucu-cucunya di rumah.Sesampainya di rumah, anak dan menantunya sudah menyiapkan kejutan untuk mbok Surti. Hari itu adalah hati dimana Mbok Surti berulang tahun. Mereka merayakannya dengan memberinya roti ulang tahun dan kado umrah untuknya. Lagi-lagi mbok Surti bersujud syukur akan kebahagian yang Tuhan selalu berikan kepadanya dan berharap agar keluarganya selalu dikelilingi oleh kebaikan dan keberuntungan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar