Jumat, 31 Mei 2019

Karena Balas Budi


Aku duduk seorang diri di roof top kantor. Aku merasakan angin yang berhembus kencang. Aku memandangi sebuah pemandangan di bawah gedung banyak sekali mobil-mobil berlalu lalang, rumah-rumah, dan gedung-gedung lain yang juga menjulang tinggi berdekatan denganku. Aku tak sadar sudah berdiam lama di tempat ini, orang yang aku minta untuk datang juga tak kunjung kelihatan batang hidungnya. Angin yang kencang makin membuat tubuhku menggigil. Aku ambil telfon genggamku dan beranjak kembali ke dalam kantor.

Aku melihat pintu lift terbuka dan ternyata ia memenuhi permintaanku. Dia berjalan ke arahku, tapi aku merasa sudah lelah dan malas untuk bertemu. Aku bilang padanya badanku sudah menggigil karena angin yang cukup kencang dan dia mengerti. Kami sama-sama turun ke lantai dimana ada cafe. Mungkin lebih baik jika kami mengobrol di cafe saja. Setibanya di cafe, aku dan riko kekasihku, memesan minuman dan makanan. Kami sepakat untuk menghabiskan makan terlebih dahulu dan baru berbicara. Sebenarnya sudah lama sekali aku ingin membicarakan masalah ini dengan dia. Tapi, karena aku sibuk dengan pekerjaanku dan begitu pun juga dengan dia, maka pertemuan ini jadi sering terlupakan.

Aku dan Riko bekerja pada perusahaan yang sama. Bedanya, aku bekerja sebagai staff di kantor dan Riko bekerja pada bagian lapangan. Sulit bagi kami untuk bertemu dan sekedar untuk jalan berdua. Selesai makan, Riko bertanya apa yang sebenarnya ingin aku sampaikan. Dengan rasa takut, aku enggan untuk menjawab karena otakku juga masih menimbang-nimbang apakah ini baik untuk dibicarakan atau tidak. Dengan tekad yang bulat, akhirnya aku berani mengutarakannya, “Kita ngga jadi nikah aja ya?”Riko yang sambil menghabiskan minumannya tersedak dan kaget. Ia terbatuk hingga wajahnya memerah, “Kenapa kamu ngomongnya gini? memangnya kenapa?”, “Ngga papa, nikahnya ngga jadi aja ya?” aku mengulangi sekali lagi.

Wajah Riko semakin bingung dan menatapku dengan tajam, “Karena apa? ada orang lain di hati kamu?” ia mencoba memastikan, “Hmm, aku nggak jadi pengin nikah aja” jawabku dengan santai, “Kamu nggak kasian sama ayah dan ibu dan keluarga yang lain? mereka udah seneng lho melihat kita sebentar lagi menikah”, “Ngga papa, nanti aku yang bilang aja sama keluargaku. Aku juga akan meminta maaf sama keluargamu” sahutku sambil menunduk, “Coba lihat mataku, kamu ngomong sekali lagi sambil lihat mataku” jawabnya dengan gelisah. Aku pun mengulangi bicara sambil menatap wajahnya dan semuanya biasa saja.

Benar ya, kamu memang udah ngga ada rasa lagi sama aku. Mata kamu tidak berbohong, sekarang terserah kamu mau bagaimana, aku nggak ikut-ikut, terserah semua urusanmu” dan Riko pun pergi dengan rasa kecewanya. Aku sendiri sudah lega, aku sudah mengutarakan semuanya pada dia. Sesungguhnya pertama kali aku menerima cintanya hanya karena aku hendak berbalas budi karena keluarganya sudah pernah menampungku selama aku melakukan penelitian di desanya. Aku tidak mencintai Riko selayaknya aku mencintai seseorang yang benar-benar aku cintai. Aku menganggapnya hanya sebagai seorang sahabat. Tapi aku selalu mencoba meyakinkan diriku jika suatu saat aku akan bisa mencintainya, namun hingga saat ini aku memang tidak bisa mencintainya. Aku lebih baik berkata jujur saat ini, ketimbang nanti ketika keadaan sudah berlarut-larut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar