Jumat, 31 Mei 2019
Isi Hati yang Tak Tersampaikan
Sedari tadi Kania hanya berdiam diri melentangkan badannya sambil memandangi langit-langit kamarnya. Pandangannya kosong. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Tanggannya kembali memegang figura yang juga tergeletak di sampingnya. Dipandanginya figura itu, diusapnya juga. Air mata Kania perlahan membasahi pelipis matanya dan didiamkannya saja hingga mengering. Tampaknya ia sedang merindu.Tatapannya kembali pada langit-langit kamar, namun banyangannya jauh dari itu. Ia membayangkan saat-saat yang telah lalu atau mungkin sudah tidak akan pernah terulang kembali. Kania hanya menyesali sesuatu. Sosok laki-laki yang ada diantara barisan teman-teman KKNnya diusapnya lagi dan lagi.
Agus, salah satu teman KKN yang sangat dekat dengannya akan pulang ke Bengkulu untuk menikahi kekasihnya. Kania cemburu karena dia sempat dekat dengan Agus. Dua bulan di tempat KKN bukanlah waktu yang sedikit. Dua bulan tinggal dalam satu atap yang sama pasti meninggalkan banyak kenangan. Terutama untuk Kania dan Agus yang memang selalu bersama, bahkan teman-teman menganggap mereka seperti pasangan hasil cinta lokasi.Setiap pagi, Agus selalu membangunkan Kania dan mengajaknya lari-lari mengelilingi sawah di desa tempat dimana mereka ditugaskan oleh kampus.
Agus dengan sifatnya yang penyayang, lembut, dan perhatian membuat Kania menjadi salah beranggap. Kania merasa Agus sangat memperhatikannya. Hanya Kania yang Agus cari setiap kali ia kesulitan. Hanya Kania yang selalu diajaknya berjalan-jalan. Dan hanya Kania tempat Agus mencurahkan isi hatinya. Kania teringat ketika Agus usil mencubit hidungnya. Ia juga teringat ketika Agus mengusap-usap kepalanya dengan sayang. Semuanya menjadi sesuatu yang tak terlupakan oleh Kania. Meskipun ia tahu bahwa Agus telah memiliki kekasih. Tapi, Kania tetap percaya bahwa jodoh hanya ada di tanggan Tuhan dan rasa cinta itu akan tumbuh melalui kebersamaan yang kerap.
Usai KKN, Agus masih selalu menghubungi Kania.
Kania semakin menganggap bahwa Agus merindukan dirinya. Ia menganggap bahwa Agus tidak ingin kehilangan dirinya. Kania pun kerap menghubungi Agus. Namun pertemuan mereka sudah tidak sedekat di tempat KKN. Agus mulai sibuk lagi dengan usaha dan juga kekasihnya. Kesempatan bagi Kania untuk bertemu dengan Agus pun semakin berkurang, sama dengan perhatian Agus kepadanya.Suatu ketika, Kania ingin sekali mengungkapkan perasaanya. Ia mengajak Agus untuk bertemu, namun Agus menolak karena tidak bisa meninggalkan pekerjaannya. Agus meminta Kania untuk menemui temannya saja yang lain, bahkan meminta Kania untuk cepat-cepat mencari pasangan hidup agar tidak melulu kesepian.
Seketia Kania kaget. Dalam hatinya ia menggumam, “Berarti selama ini benar-benar tidak sungguh-sungguh? lalu apa?” Kania pun mulai biasa saja. Ia mencoba menjauh, namun malah semakin merindu.Belum juga sampai mengutarakan isi hatinya kepada Agus, Kania sudah merasa patah hati terlebih dahulu. Agus bercerita kala berada di bandara. Ia akan pulang ke Bengkulu untuk menikahi kekasihnya. Kania hanya diam saja, ia mendengar semua yang Agus ucapkan, “Aku pulang dulu ya, sebenarnya aku pengennya kamu aja duluan yang menikah, biar aku bisa liat kamu menikah, yah tapi kan kamu masih jomblo terus. Semoga kita bisa ketemu lagi di kemudia hari ya Kania.”
Kania hanya bisa menunduk saja. Air matanya menetes pada kedua pipinya. Agus terus memberikanya semangat. Agus menerangkan bahwa Kania adalah teman terbaik yang pernah Agus temui dan teman yang paling tidak membawa-bawa perasaannya. Agus pun pamit dan naik ke pesawat.Berminggu-minggu sudah Kania merasakan kegalauan dalam hatinya. Sampai saat ini pun, ia masih tidak ingin mengutarakan isi hatinya. Kania membiarkan perasaanya mati bersama seiringnya waktu. Hanya satu yang menjadi penyesalannya hingga saat ini, ia tidak berani mengutarakan isi hatinya hingga yang dicintainya menikah dengan yang lain. Kania pun hampir tidak percaya lagi dengan perlakuan-perlakuan manis seorang laki-laki. Ia mencoba untuk tidak menghubungi Agus. Ia menghapus kontak nomor Agus dan semua isi pesan masuk dari Agus. Kania mulai melupakannya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar