Tampilkan postingan dengan label curhatanku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curhatanku. Tampilkan semua postingan

Jumat, 31 Mei 2019

Ingin Ku Utarakan


Tak  sadar air mata Fani jatuh di hadapan Iwan. Ia sudah tak sanggup lagi untuk menahan apa yang dirasakannya. Air matanya keluar bersamaan dengan bibir yang mulai bergerak untuk mengutarakan sesuatu. Wajahnya yang putih bersih berubah menjadi merah. Ia menatap Iwan dengan wajah dipenuhi harapan, namun tetap masih tidak tahu harus bagaimana menyampaikannya. Iwan menatapnya dengan raut wajah penuh pertanyaan. Ia mengusap air mata Fani yang membanjiri kedua pipinya. Fani dan Iwan sudah bersahabat dari pertama mereka masuk kuliah. Kemanapun Fani pergi pasti disitu ada Iwan, begitu pun sebaliknya.

Keduanya sudah seperti amplop dan perangko yang tidak bisa dipisahkan. Iwan selalu menjemput Fani ketika akan berangkat kuliah dan Fani pun selalu setia menunggu Iwan. Mereka kerap sekali menghadiri acara-acara yang sama karena memang hobi mereka yang sama, berolahraga dan bermain teater. Teman-teman di kampus seringkali menyangka mereka adalah sepasang kasih yang menyembunyikan statusnya dengan mengaku sebagai seorang sahabat. Namun, kerap sekali terlihat apa yang mereka lakukan lebih dari sekedar persahabatan.

Kebersamaan yang mereka jalani menjadikan keduanya saling mengetahui sifat satu sama lain, dari hal yang baik hingga hal terburuk dari mereka berdua. Sifat yang paling mereka sukai satu sama lain adalah perhatiannya, apalagi di perantauan, jauh dari orang tua, perhatian dari seorang sahabat pasti memiliki arti yang penting. Sementara hal yang paling keduanya benci adalah ketika salah satunya harus membagi perhatiannya kepada yang lain. Entah mengapa akhir-akhir ini Fani terlihat aneh. Ia tak seperti biasanya. Ia seperti tidak ingin bertemu dengan Iwan, namun jika tidak bertemu ia akan merasa gelisah dan galau.

Tapi ketika ditanya kenapa, Fani selalu berkata baik-baik saja. Hal itu membuat Iwan bingung dan ingin mengungkapkan apa sebenarnya yang sahabatnya itu rasakan.Waktu itu, Iwan bercerita kepada Fani bahwa ia ingin merubah sifatnya yang paling tidak disukai oleh Fani, yaitu mempermainkan seorang wanita. Ia memberitahu Fani jika ia sudah menemukan perempuan yang akan dijaganya sepenuh hati. Perempuan itu adalah teman satu komunitasnya dan berasal dari daerah yang berbeda. Mereka kerap sekali bertemu dan jalan bersama ke suatu kota. Mereka foto berdua dan dipajangnya di media sosial masing-masing.

Tapi, yang Iwan ceritakan kepada Fani adalah ia hanya ingin mencoba untuk menjadi laki-laki yang baik, ia ingin mencoba untuk setia dengan perempuan itu. Setelah mengetahui maksud Iwan itu, tiba-tiba muka Fani terlihat sering muram, terlebih jika ia melihat foto Iwan dan perempuan itu di sosial media. Tapi, apalah daya Fani yang hanya berstatuskan sahabat. Ia tidak bisa melarang Iwan untuk menentukan pilhannya. Fani hanya bisa diam dan menggalau. Perhatian Iwan saat ini sudah terbagi untuk yang lain juga. Fani merasa cemburu, namun hatinya tetap kukuh pada prinsipnya bahwa dirinya dan Iwan hanyalah sebatas sahabat.Berulang kali Iwan mendatangi Fani untuk menceritakan hubungannya dengan perempuan itu. Iwan terlihat belum sepenuhnya suka dengannya, ia malah berkata.

Kalau aku suruh milih dia atau kamu ya Fan, jelas aku milih kamu lah”. Mendengar perkataan Iwan tersebut semakin membuat Fani sakit hati. Ia ingin sekali mengutarakan sesuatu pada Iwan, namun tak kuat untuk mengucapkan. Akhirnya ia hanya menangis untuk meluapkan kesedihannya. Iwan yang duduk di sampingnya mencoba menenangkan agar Fani bisa menutarakan isi hatinya.Fani mulai membuka bicaranya, “Kamu bilang kamu mau belajar untuk jadi laki-laki yang baik dan setia dengan satu wanita” ia terus mencoba bicara meski isak tangisnya semakin membuncah dan mencoba meneruskannya “Tapi, untuk belajar itu mengapa harus dengan orang lain? mengapa harus dengan orang baru yang sama sekali tidak tau kamu? kenapa tidak denganku saja? aku yang setiap hari ada untuk kamu, mendengarkan cerita dan kegalauan lainnya tentang kamu.

Aku ini lho yang ada di depan kamu.. kenapa kamu pilih dia dan bukan aku saja untuk kamu jadikan seseorang yang akan kamu cintai dan membuat kamu menjadi seorang laki-laki yang baik dan setia?” air matanya semakin mengalir dengan deras. Ia tak kuat lagi untuk berkata-kata. Iwan seketika langsung memeluknya dengan erat, air matanya pun ikut menetes. “Sebenernya udah dari lama Fan aku pengen bilang kaya gitu ke kamu, tapi aku takut, takut kamu hanya menganggapku sebagai seorang sahabat dan ketika aku bilang aku mencintaimu, aku takut kamu malah pergi dari aku Fan, maafin aku”. Mereka pun semakin erat berpelukan dan berjanji untuk selalu bersama hingga nanti.