Jumat, 31 Mei 2019

Keberuntungan Job Seeker


Dua pemuda itu kembali menapaki trotoar di sepanjang jalan yang dekat dengan daerah perkantoran. Arik dan Memet memang sedang sibuk mencari pekerjaan. Sambil berjalan dan menenteng ampelop cokelat itu, merek saling mengobrol,“Bingung sekali aku ini Rik, sudah lulus kuliah namub belum mendapatkan pekerjaan juga”“Sabar lah Met, kalau kita terus berusaha, pasti nanti akan ada jalan. Berusaha terus dulu lah Met, nanti selebihnya kita berdoa dan pasrahkan saja semuanya kepada Tuhan”“Baik lah Rik, eh ngomong-ngomong kamu bijaksana sekali, temben...”“Memang seperti inilah aku Met, hahaha.

Sambil tertawa terbahak-bahak, Arik merasa dirinya menginjak sesuatu. Ia pun langsung melihat ke bawah dan ia mendapati dirinya menginjak sesuatu berbentuk hitam dan kotak. Benda itu masih diinjaknya. Memet yang tidak sadar temannya berhenti terus saja melanjutkan langkahnya. Tidak lama kemudian Memet tersadar ia hanya tertawa sendiri, sementara Arik sudah tidak ada di sampingnya. Memet segera menengok ke belakang, ia mendapati Arik sedang membuka dompet. Berulang kali ia memanggil Arik, namun Arik tidak mendengarkan dan terus fokus kepada dompet itu.

Memet yang tak sabar pun meledeknya, “Ya ampun jangan lama-lama liah dompetnya, paling juga tidak ada isinya, orang kita aja masih pengangguran hahaha ayok cepat.” Arik tetap tak peduli dengan suara Memet, ia malaj menyuruh Memet mendekat. Karena penasaran dengan raut wajah Arik, Memet pun mendekat. “Eh lihat ini ada dompet jatuh”“Hah? dimana” Memet terkejut setelah mendengar,“Nih barusan disini, nih ada KTP nya nih”“Widiiih uangnya banyak juga tuh bro” Kata Memet lagi ketika melihat uang di dalamnya,“Hust, ini bukan uang kita. Kita harus kembalikan kepada yang punya, yuk ah pesan ojek online, kita harus ke alamat ini nih.

Huft, baik sekali kamu Rik, semoga kamu cept mendapat pekerjaan ya”“Iya Met, kita met, bukan aku saja”Mereka sampai di alamat yang ada di KTP tersebut. Arik dan Memet berjalan pelan dan mengetuk pintu rumah itu. Ada seorang wanita berjalan menuju pintu yang berkaca itu dan membukakannya. “Permisi bu, apa benar ini Rumah pak Edi?” tanya Arik dengan malu-malu,“Oh ya benar dik, ada perlu dengan pak Edi?”“Iya bu, ini barusan di jalan sebelah sana saya dan teman saya menemukan dompet milik pak Edi”“Owalah, tadi memang suami saya menelfon saya untuk mengecek dompetnya tertinggal tidak di rumah, namun setelah dicari-cari dompetnya tidak ada.

Beruntung sekali adik-adik ini yang menemukannya dan berbaik hati mengembalikannya kesini”“Tidak apa bu, sudah seharusnya seperti itu” Memet dengan nadanya yang khas menjawabnya.“Adik berdua ini mau kemana? kok rapih sekali?” tanya istri pak Edi yang juga sembari memperhatikan mereka berdua,“Ini bu, kami sedang mencari pekerjaan, kebetulan baru satu minggu kemarin kami lulus kuliah dan sekarang mau bekerja bu” jawab Arik dengan halus,“Oh, bisa saya minta nomor adik? agar nanti saya kabari. Kebetulan suami saya sedang membutuhkan karyawan untuk bagian staff administrasi. Nanti kalau masih ada, saya kabari adik ya?”“Oh iya bu, ini nomor telfon kami, terimakasih banyak ya bu.

Iya, malah justru saya yang harusnya berterimakasih kepada adik berdua karena sudah baik mengantarkan dompet suami saya”“Yasudah bu, kalau begitu kami pamit dulu ya”“Oh iya, ini sekalian untuk ongkos pulang” wanita itu menyodorkan dua lembar uang raturan ribu.“Maaf bu, tidak usah, kami dekat kok bu, cuma di seberang situ”“Oh yasudah, sekali lagi terimakasih ya dik untuk kebaikan hati adik berdua”“Sama-sama bu, mari bu kami duluan”“Iya hati-hati ya”Malam hari ketika sedang menikmati mie goreng dan mie rebus, Arik dan Memet mendapatkan telfon dari pak Edi. Ia meminta merka untuk datang ke kantornya dengan membawa surat lamaran pekerjaan. Dengan gembira keduanya seketika melakukan sujud syukur dan berpelukan. Akhirnya Tuhan memberikan jalan itu kepada mereka berdua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar