Tampilkan postingan dengan label kisah lucu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah lucu. Tampilkan semua postingan

Jumat, 31 Mei 2019

Hasil yang Tertuai


Tenggelam dalam masa lalu yang telah hilang. Tersesat langkahku pada karang kepedihan yang membuatku tak bisa mencari jalan untuk mencapai permukaan bahagia. Sepi seperti tak ada satu pun nyawa yang tersisa dan membawaku kepada kebahagiaan di permukaan sana atau aku yang memang tak ingin terlepas dari belenggu ini. Bertahun-tahun aku merasa menyesal, aku tak bisa melepaskan rasa penyesalan yang terus mengejar-ngejar di dalam pikiranku. Hingga saat ini aku merasa tidak akan ada sesuatu yang membuatku bahagia karena kebahagiaan itu telah hanyut bersama keegoisanku sendiri.

Aku benar-benar menyesali apa yang telah aku pilih, namun apapun alasanku, ini tetap pilihanku dan aku harus menjalaninya hingga entah sampai kapan kakiku ini bisa terbebas dan menemukan kebahagian yang lain. Karena hanya kebahagian itu yang ada di dalam khayalanku.Dia yang aku kira akan lebih bisa mencintaiku dan membahagiakanku jauh lebih bisa menyakitiku. Sementara Dia yang aku anggap tidak akan pernah bisa membahagiakanku justru lebih bisa mencintai dan membahagiakan orang lain. Oleh suamiku sendiri, aku ditelantarkan setelah dia mendapatkan apa yang dimau, sementara orang yang aku tinggalkan sangat menjaga dan menyayangi pasangannya dengan setulus hati.

Suamiku yang aku kira kaya raya dan akan membuatku bahagia, ia tidak pernah menafkahiku barang sepeserpun. Sementara dia yang aku tinggalkan demi orang lain selalu memberikan seluruhnya apa yang ia miliki kepada yang dicintainya.Suatu waktu takdir mempertemukan aku dengannya yang kutinggalkan. Ia masih sama seperti dahulu, ia tak memiliki dendam apapun, dan senyumannya masih seikhlas dulu. Perilakunya masih sayang seperti dulu, tak tega melihat anakku yang meminta balon tapi tak kuturuti. Ia tak pernah tega melihatku yang kusam ini mengais sampah mencari botol plastik yang berceceran. Wajahnya yang juga membuat orang lain bahagia melihatnya mencoba menolong aku yang pernah menyakitinya. Dia membelikan aku dan anakku baju, tapi tak akan pernah akan memberikan hatinya lagi.

Seorang wanita yang selalu berada di sampingnya memandangku penuh iba. Ia memberikan berapa stel baju. Entah apa yang hati mereka katakan, aku hanya malu dan mencoba pergi ketika mereka datang. Di rumah aku selalu mengkhayalkan apabila saat itu aku menerima dia dengan tulus dan ikhlas. Pasti hidupku tidak akan seburuk ini. Aku menikah dengan seorang pemabuk yang berakting suci kala itu. Inginku berpisah saja, inginku bercerai saja, namun tidak ada yang bisa kubuat. Ia selalu mencariku dan menemukanku, sementara aku tak pernah memiliki banyak uang untuk mengadakan sidang perceraian. Itu lah sebabnya sampai hari ini aku masih berada disini.

Dengan lingkungan yang ada di sekelilingku, aku merasa tidak ada laki-laki yang bisa lebih membahagiakanku selain dia yang kutinggalkan dan kini bahagia dengan yang lebih tulus menerimanya. Jika memang perpisahan antara aku dengan suamiku terjadi, maka hanya dia yang kutinggalkan yang masih ingin kuharapkan. Kadang aku merasa telah menjadi gila dengan berharap dan berkhayal lebih, namun kenyataannya aku memang harus setia menjalani nasib yang diperuntukkan untukku. Aku sadar, dia tidak ditakdirkan denganku karena memang bukan dia tidak pantas denganku, namun karena aku tidak pantas hidup bersama dengan orang yang baik dan setulus dia. Aku merasa pantas jika harus menjalani kehidupan ini, karena yang aku tanamkan dahulu memang seharusnya berbuah seperti ini.