Jumat, 31 Mei 2019

Kisah lucuku Keloloden


Pagi-pagi sekali bu Iroh sudah bangun di kala suara takbir berkumandang. Ia menyiapkan pakaian dan mukena untuk ikut menunaikan shalat idul adha di masjid. Ia mandi ketika langit belum terkena sinar matahari dan membangunkan anak dan suami setelah siap semuanya. Mereka lekas mandi, berdandan, dan jalan menuju masjid bersama-sama. Orang-orang juga sama berbondong-bondong pergi ke masjid bersama dengan keluarganya. Mereka semua saling bertemu di pertigaan atau perempatan gang. Semua orang terlihat bahagia menyambut datangnya hari suci ini.

Dari kejauhan bu Iroh dan keluarganya melihat beberapa sapi dan kambing yang sengaja diikat di bawah pohon samping masjid. Kambing dan sapi itu akan disembelih dan dijadikan kurban. Salah satu dari sapi yang berada di sana adalah sapi milik bu Iroh dan keluarga. Berulang kali ia mencoba menegaskan sapi yang besar berwarna kecokelatan itu adalah sapi miliknya yang dikurbankan. Tangannya tak henti menunjuk-nunjuk sapi yang paling besar di antara sapi-sapi yang lain. Seketika orang-orang di dekatnya memuji sapi milik bu Iroh yang besar itu.

Setelah shalat idul adha selesai, para pemuda desa mulai menyalakan petasan tanda berakhirnya shalat dan untuk meramaikan bubarnya orang-orang dari dalam masjid. Banyak pasang mata memandang binatang yang diikat di bawah pohon itu. Banyak anak kecil yang merengek-rengkek kepada ibunya untuk melihat sapi itu dengan dekat. Di antara mereka ada yang sengaja ingin menonton disembelihnya sapi sampai tidak pulang ke rumah terlebih dahulu, namun ada juga yang tanpa melihat kanan kiri langsung saja pulang ke rumah masing-masing.

Bu Iroh dengan gesit mengambil sandalnya dan berlari ke rumah untuk meletakkan mukenanya. Ia kembali ke masjid sembari membawa banyak pak plastik dan pisau-pisau yang pasti akan dibutuhkan oleh orang-orang yang hendak membantu penyembelihan kambing dan sapi itu. Sesampainya disana, bu Iroh tampak bahagia dengan sapinya yang dikurbankan. Ia meminta agar sapinya disembelih paling akhir karena katanya tidak tega melihatnya dengan nadanya yang memelas dan terus mengusap-usap kepala sapi tersebut.

Ketika semua sapi telah tersembelih, bu Iroh sangat menjaga-jaga daging yang sudah dirajanginya. Ia tidak mau jika ada seseorang yang licik mengambil daging dengan seenaknya sendiri. Sementara bagian dari sapi milik bu Iroh yang diberikan sebagian kepada bu Iroh oleh panitia, tidak boleh disentuh oleh siapapun. Dengan cepat ia pulang ke rumah dan menyimpan sebagian daging dari sapi yang dikurbankannya. Ia segera kembali lagi ke pelataran masjid untuk ikut mengurusi daging-daging yang masih belum ditimbang itu.

Bu Irong senang sekali karena mendapatkan banyak bagian juga dari hasilnya membantu panitia. Dengan semangat ia memberi kabar kepada saudara-saudaranya agar berkunjung dan menyantap masakan daging yang banyak yang diperolehnya dari masjid tadi. Ia sudah menyiapkan macam-macam bumbu yang diperlukan. Ia sudah menyiapkannya dari kemarin dan disimpanya dalam lemari es, sehingga dengan cepat daging-daging itu dimasaknya dan matang sebelum saudara-saudaranya datang.

Karena takut kehabisan daging yang sudah dimasaknya, ia cepat-cepat menyantap daging hasil masakannya sendiri dalam jumlah yang banyak dan kenyang. Ia menyantap daging tanpa nasi. Ia pun menyisakan beberapa piring daging dan disimpannya baik-baik di dalam almari. Tiba-tiba ketika sedang lahap-lahapnya menyantap masakan dagingnya, ia tersedak. Daging yang sedang disantapnya terhenti di tenggorokannya. Daging itu sulit ditelan dan sulit juga dikeluarkan. Tiba-tiba juga mulutnya yang sedang membuka tidak bisa dikembalikan lagi. Mulutnya terus membuka, pernafasan di tenggorokan pun terhalang. Ia berlari mencari suaminya yang sedang lelah dan tertidur di depan televisi.

Sang suami kaget dan mencoba menolongnya, namun mulut sang istri tetap tidak bisa dikembalikan ke asalnya dan rahangnya tidak bisa dipaksa untuk menutup. Sang suami lekas mencari bantuan untuk membawa istrinya ke rumah sakit, namun sebelum sampai sang istri sudah tidak kuat dan meninggal karena saluran nafasnya yang tidak berfungsi lagi. Sang suami masih penasaran apa penyebabnya yang mengakibatkan sang istri menjadi seperti itu. Setelah dibawa ke rumah sakit, dokter baru menemukan penyebabnya yang adalah tenggorokan Bu Iroh tersumpal dua potongan daging yang belum selesai terkunyah namun kepaksa masuk ke dalam tenggorokannya. Hari itu menjadi hari yang menyedihkan untuk keluarga dan saudara-saudara yang tadinya hanya berniat menyantap daging namun malah merawat jenazah bu Iroh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar