Jumat, 31 Mei 2019

Iri bukan solusi


Suara kesal panitia harlah kantor mulai terdengar riuh akibat perginya Mei, salah satu anggota panita acara tersebut. Sudah dua malam ia tidak kembali ke asrama untuk mengikuti briefing acara. Anggota yang lain tampak begitu khawatir dan sebagian lainnya tampak begitu kesal. Sebagian anggota yang kesal itu adalah teman-teman perempuan Mei. Mei yang cantik dengan postur tubuh ramping dan putih bersih. Wajahnya putih merona, tak tampak noda apapun selalu menjadi primadona di kantornya. Tampilannya yang feminin semakin membuatnya nyaman dipandang. Baju yang dipakainya selalu rapih dan wangi.

Mei selalu tampil dengan sangat cantik dan mempesona. Ulan, salah satu temannya sangat iri dengan kecanntikan Mei. Ia selalu membandingkan dirinya yang gendut itu dengan apa yang ada pada diri Mei yang tampaknya semuanya sempurna.Sebelum acara harlah dimulai, Mei memang sudah memiliki rencana untuk bertemu dengan kekasihnya. Hari pertama persiapan harlah tersebut, Mei meminta izin pergi sebentar untuk menemui kekasihnya, namun ternyata ia pergi dalam waktu yang sangat lama. Entah apa yang dilakukannya pun anggota lainnya tidak mengetahui. Pekerjaan yang harusnya menjadi tanggung jawab Mei itu harus diwakilkan kepada anggota lainnya sehingga membuat mereka kesal dan kecewa pada Mei.

Ulan, salah satu anggota yang sangat tidak suka dengan Mei merasa sangat kesal. Ia tidak ingin memendam kekesalannya itu sendiri dengan teman-temannya. Ia ingin sekali melaporkan perbuatan Mei itu kepada pimpinan mereka. Maka, jujurlah Ulan kepada atasanya itu akan perbuatan Mei yang tidak disukainya. Ulan berharap Mei akan mendapatkan kritik dari sang pimpinan dan ingin membuatnya merasa salah di depan banyak teman-teman.Setelah dua hari tak mengikuti acara harlan tersebut, Mei kembali ke asrama dengan tampilannya yang cantik itu, sementara teman-teman yang lain sudah bersiap-siap untuk pergi meninggalkan asrama.

Barang-barang sudah  dirapihkan semuanya. Tidak ada satu teman perempuan pun yang mau merapihkan pakaian Mei, hingga akhirnya satu teman laki-laki membereskan perlengkapan Mei. Ulan semakin gemas dan menunggu sang pimpinan menegur Mei yang datang dengan wajah tak bersalah. Mei datang dan meneruskan memberesi perlengkapannya. Teman-teman yang lain hanya mengamati dan kandang membicarakannya dengan teman yang lainnya dari jauh. Mei yang cantik itu tampak tenang membuat Ulan semakin gemas,“Itu cewek gimana sih, nggak ngerasa salah atau gimana, sok cantik!! Mana, pimpinan kita aja gak ada menegurnya sama sekali”.

Karena teman perempuannya tidak ada yang membantu, maka Mei dibantu oleh teman laki-lakinya. Mei pun tidak dipanggil oleh pimpinan untuk ditegur, tidak ada sama sekali yang mengkritik. Ulan kembali dengan ucapan kesalnya, “Enak ya jadi orang cantik, langsing, putih jadi dapet banyak perhatian dari mana-mana, enggak harus dimarahin. Coba kalau aku yang salah, pasti aku sudah dibully habis-habisan. Sabar ya jadi aku mah”, seketika pimpinan menegur Ulan dengan tegas, “Sudah!! tidak usah marah-marah, bantulah Mei itu, kita mau pulang. Bisnya sudah lama menunggu!!” dan seketika itu juga Ulan semakin geram dan semakin meninggalkan Mei dan kawan yang lain karena malu.

Ulan menyendiri dan meratapi dirinya yang tidak secantik Mei. Ulan merasa bahwa menjadi cantik akan selalu disayang oleh orang lain. Ia selalu sirik dengan kelebihan yang didapatkan oleh Mei. Tiba-tiba Mei masuk ke ruangan dimana Ulan sedang berada pada titik kekesalanya. Mei sama sekali tidak peduli dengannya. Di toilet, ia malah membuka tas make up nya dan memoleskan bedak dan lipstik, juga menyemprotkan parfum yang wangi dan segar baunya. Mei sama sekali tidak tahu jika Ulan sedang tidak suka kepadanya. Mei selesai berdandan dan begitu saja meninggalkan Ulan. Ulan pun semakin panas dan semakin tidak suka pada Mei. Entah sampai kapan kekesalannya pada Mei akan terobati, mungkin sampai ia tahu bahwa Mei memang cantik dan mencoba untuk menasehati Mei dengan baik, bukan malah mencari kesalahan dan membencinya.

Ingin Ku Utarakan


Tak  sadar air mata Fani jatuh di hadapan Iwan. Ia sudah tak sanggup lagi untuk menahan apa yang dirasakannya. Air matanya keluar bersamaan dengan bibir yang mulai bergerak untuk mengutarakan sesuatu. Wajahnya yang putih bersih berubah menjadi merah. Ia menatap Iwan dengan wajah dipenuhi harapan, namun tetap masih tidak tahu harus bagaimana menyampaikannya. Iwan menatapnya dengan raut wajah penuh pertanyaan. Ia mengusap air mata Fani yang membanjiri kedua pipinya. Fani dan Iwan sudah bersahabat dari pertama mereka masuk kuliah. Kemanapun Fani pergi pasti disitu ada Iwan, begitu pun sebaliknya.

Keduanya sudah seperti amplop dan perangko yang tidak bisa dipisahkan. Iwan selalu menjemput Fani ketika akan berangkat kuliah dan Fani pun selalu setia menunggu Iwan. Mereka kerap sekali menghadiri acara-acara yang sama karena memang hobi mereka yang sama, berolahraga dan bermain teater. Teman-teman di kampus seringkali menyangka mereka adalah sepasang kasih yang menyembunyikan statusnya dengan mengaku sebagai seorang sahabat. Namun, kerap sekali terlihat apa yang mereka lakukan lebih dari sekedar persahabatan.

Kebersamaan yang mereka jalani menjadikan keduanya saling mengetahui sifat satu sama lain, dari hal yang baik hingga hal terburuk dari mereka berdua. Sifat yang paling mereka sukai satu sama lain adalah perhatiannya, apalagi di perantauan, jauh dari orang tua, perhatian dari seorang sahabat pasti memiliki arti yang penting. Sementara hal yang paling keduanya benci adalah ketika salah satunya harus membagi perhatiannya kepada yang lain. Entah mengapa akhir-akhir ini Fani terlihat aneh. Ia tak seperti biasanya. Ia seperti tidak ingin bertemu dengan Iwan, namun jika tidak bertemu ia akan merasa gelisah dan galau.

Tapi ketika ditanya kenapa, Fani selalu berkata baik-baik saja. Hal itu membuat Iwan bingung dan ingin mengungkapkan apa sebenarnya yang sahabatnya itu rasakan.Waktu itu, Iwan bercerita kepada Fani bahwa ia ingin merubah sifatnya yang paling tidak disukai oleh Fani, yaitu mempermainkan seorang wanita. Ia memberitahu Fani jika ia sudah menemukan perempuan yang akan dijaganya sepenuh hati. Perempuan itu adalah teman satu komunitasnya dan berasal dari daerah yang berbeda. Mereka kerap sekali bertemu dan jalan bersama ke suatu kota. Mereka foto berdua dan dipajangnya di media sosial masing-masing.

Tapi, yang Iwan ceritakan kepada Fani adalah ia hanya ingin mencoba untuk menjadi laki-laki yang baik, ia ingin mencoba untuk setia dengan perempuan itu. Setelah mengetahui maksud Iwan itu, tiba-tiba muka Fani terlihat sering muram, terlebih jika ia melihat foto Iwan dan perempuan itu di sosial media. Tapi, apalah daya Fani yang hanya berstatuskan sahabat. Ia tidak bisa melarang Iwan untuk menentukan pilhannya. Fani hanya bisa diam dan menggalau. Perhatian Iwan saat ini sudah terbagi untuk yang lain juga. Fani merasa cemburu, namun hatinya tetap kukuh pada prinsipnya bahwa dirinya dan Iwan hanyalah sebatas sahabat.Berulang kali Iwan mendatangi Fani untuk menceritakan hubungannya dengan perempuan itu. Iwan terlihat belum sepenuhnya suka dengannya, ia malah berkata.

Kalau aku suruh milih dia atau kamu ya Fan, jelas aku milih kamu lah”. Mendengar perkataan Iwan tersebut semakin membuat Fani sakit hati. Ia ingin sekali mengutarakan sesuatu pada Iwan, namun tak kuat untuk mengucapkan. Akhirnya ia hanya menangis untuk meluapkan kesedihannya. Iwan yang duduk di sampingnya mencoba menenangkan agar Fani bisa menutarakan isi hatinya.Fani mulai membuka bicaranya, “Kamu bilang kamu mau belajar untuk jadi laki-laki yang baik dan setia dengan satu wanita” ia terus mencoba bicara meski isak tangisnya semakin membuncah dan mencoba meneruskannya “Tapi, untuk belajar itu mengapa harus dengan orang lain? mengapa harus dengan orang baru yang sama sekali tidak tau kamu? kenapa tidak denganku saja? aku yang setiap hari ada untuk kamu, mendengarkan cerita dan kegalauan lainnya tentang kamu.

Aku ini lho yang ada di depan kamu.. kenapa kamu pilih dia dan bukan aku saja untuk kamu jadikan seseorang yang akan kamu cintai dan membuat kamu menjadi seorang laki-laki yang baik dan setia?” air matanya semakin mengalir dengan deras. Ia tak kuat lagi untuk berkata-kata. Iwan seketika langsung memeluknya dengan erat, air matanya pun ikut menetes. “Sebenernya udah dari lama Fan aku pengen bilang kaya gitu ke kamu, tapi aku takut, takut kamu hanya menganggapku sebagai seorang sahabat dan ketika aku bilang aku mencintaimu, aku takut kamu malah pergi dari aku Fan, maafin aku”. Mereka pun semakin erat berpelukan dan berjanji untuk selalu bersama hingga nanti.